WARUNG INFOR NASI "MAS ARUL"

Tikungan Ceulibadak, Munjul, Jl. Ipik Gandamanah, Purwakarta, Jawa Barat

  • Oleh Arulmaster

  • Data 10 Pengunjung Terakhir

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 58 pengikut lainnya

Saya Mengawali Dunia Dagang Profesional Di Perantauan, Purwakarta

Posted by Arulmaster pada 29 April 2012


Kisah ini adalah lanjutan dari Saya Mulai Mengenal Dunia Dagang Sejak Kecil.

Selesai STM, tidak ada harapan lagi untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, kuliah. Padahal dalam hati, ingin rasanya kuliah dan menjadi orang pintar untuk kemudian bisa bekerja layaknya orang sukses, seperti kakak saya yang pernah saya ceritakan dibagian yang lalu.

Apa boleh buat, dengan modal ijasah STM saya coba untuk mencari pekerjaan. Singkat cerita, pekerjaan pun saya dapatkan. Saya bekerja disebuah pabrik kimia di Tangerang, Banten. Tapi pekerjaan saya hanya mirip cleaning service, bahkan ijasah saya tidak digunakan saat itu. Dan ternyata, saya bukan tipe orang pekerja yang baik. Saya enggan saat capai di suruh ini itu oleh atasan. Apalagi saat tahu kecilnya gaji yang saya terima. Hanya dalam 40 hari saya sanggup bekerja dan keluar.

Keluar dari pabrik, saya pun menganggur. Malu dengan status pengangguran, saya coba mencari lagi pekerjaan yang mungkin dengan gaji lebih besar dan ijasah saya bisa berguna. Saya menemukan teman yang senasib. Kami sepakat untuk kembali merantau. Kali ini Purwakarta menjadi target. Kota kecil di Jawa Barat ini menurut saya berpotensi mengubah nasib kami. Banyak pabrik di sini dan mungkin saya bisa mendapat pekerjaan di sini.

Begitu sampai di tujuan, saya langsung mencari tempat kos dengan sewa murah. Dan kami mendapatkannya dengan harga Rp. 80. 000 / bulan. Paginya kami segera melancarkan aksi. Mencari lowongan kerja di pabrik yang sedang membutuhkan. Tidak seperti yang kami duga, betapa susahnya mencari lowongan kerja saat itu. Kalau pun ada, itu untuk wanita.

Seminggu berlalu tanpa hasil. Uang bekal semakin tipis untuk ongkos transportasi dan makan setiap hari. Teman saya menyerah dan minta ijin untuk pulang kampung. Tapi tidak dengan saya. Pulang kampung tanpa hasil bagi saya kalah dari medan pertempuran secara pengecut. Saya akhirnya melanjutkan perjuangan ini sendirian.

Malam harinya saya berpikir keras. Tidak mungkin keadaan ini harus berlanjut. Uang saya tinggal Rp. 70. 000. Jika sampai habis untuk transportasi dan makan, mau apa saya? Terpikir oleh saya untuk menghentikan mencari lowongan kerja dan menggunakan uang sisa untuk berdagang. Saya berpikir lagi, kira-kira jenis dagangan apa yang cocok untuk saya. Di sini saya baru dan tidak ingin dianggap saingan oleh yang lain. Akhirnya saya menemukan ide.

Uang sisa saya gunakan ke Jakarta untuk belanja beberapa mesin jam dinding, keping CD yang murah dan tempat CD yang terbuat dari mika. Kemudian semuanya saya rakit menjadi sebuah jam unik, dari kepingan CD dan tempat CD untuk kerangka agar terlihat menarik. Ini belum cukup. Saya menambahkan kertas tempel warna-warni dengan hiasan lem dan glitter yang gemerlapan di atasnya. Kemudian saya atur sedemikian rupa agar bisa membentuk tulisan yang bisa dipesan. Jam yang saya buat bisa juga untuk dipasangi foto, bisa ditempel di dinding atau diletakkan di meja. Unik, itu menurut saya.

Dengan beberapa model yang saya buat semalaman, saya optimis jam ini akan laku. Benar saja, saya hanya menyisakan dua. Saya menjualnya di emperan toko di perkotaan. Dan ini saya lanjutkan. Banyak yang menanyakan dari pabrik mana saya memperoleh jam seperti ini. Dan mereka banyak yang tidak percaya jika saya jelaskan. Jam ini mencapai puncak penjualan di hari Valentine, dimana puluhan jam habis dalam sekejap.

Tapi ini hanya bertahan  hingga tiga bulan lamanya. Suatu saat hari tidak menyenangkan tiba. Dimana musim penghujan datang dan saya tidak bisa berdagang karena jam saya bisa rusak kehujanan. Uang semakin habis buat makan dan bayar kontrakan. Suatu hari, uang tersisa hanya seribu rupiah. Tidak mungkin untuk membeli nasi dan lauk-pauknya. Berhutang pun malu dan takut jika tidak sanggup membayar. Uang pun saya belikan mie instant. Saat itu harganya Rp.800, jadi ada sisa Rp. 200.  Mie itu saya masak untuk tiga kali makan dalam sehari. Huh, mana kenyang? Untungnya esoknya saya bisa berdagang dan segera mengisi perut yang kosong saat sudah mendapatkan hasil.

Dari peristiwa itu kemudian saya berpikir, kira-kira jenis dagangan apa yang tidak merepotkan, tinggal belanja dan didagangkan. Batu batere, sepintas saja saya berpikir. Jika berdagang jam saya harus banyak meluangkan waktu untuk membuatnya, batu batere tidak. Saya bisa memaksimalkan waktu untuk berdagang dan mendapat keuntungan lebih. Pagi-pagi saya bisa berdagang di pabrik saat karyawan berangkat kerja. Selesai dengan ini, saya melanjutkan ke pasar pagi. Siang saya baru pulang ke tempat kos. Itu pun tidak lama. Saya berangkat lagi ke emperan pertokoan kota sampai malam. Sepulang dari sini saya baru pulang dan menikamati istirahat sambil menghitung keuntungan yang saya dapat. Rata-rata setiap hari saya mendapatkan keuntungan sekitar Rp. 40. 000 sampai Rp. 80. 000 saat itu. Lumayan.

Pengeluaran saya sendiri tergolong super ngirit. Setiap makan di warteg saya cukup merogoh kocek Rp. 1.500, hanya dengan nasi dan sayur tempe. Jadi setiap harinya keperluan untuk makan saya adalah Rp. 4. 500. Sayangnya saya juga mulai belajar merokok, meskipun hanya tiga batang setiap hari.

Kejadian tidak menyenangkan kambali terjadi. Dengan alasan tempat kos akan dikhususkan untuk wanita, saya diminta untuk pindah tempat kos oleh pemiliknya. Padahal sebelum saya menempatinya, tempat kos ini kosong. Baru setelah saya tinggal ketiga ruangan kos penuh oleh karyawati.

Tapi mau bagaimana lagi, itu hak pemilik tempat kos. Untungnya saya punya kenalan yang menawarkan tempat kos, dengan harga lebih murah pula. Dan saya pindah tempat kos.

Ternyata tempat kos yang ditawarkan adalah ruang kecil berukuran 1,5 X 2 m. Mungkin sebuah gudang kecil yang tidak terpakai. Suasananya pengap, tanpa jendela atau ventilasi, dan banyak kecoa. Kasur yang disediakan juga sebuah kasur kecil usang, berlubang dan bau tidak sedap serta tanpa bantal. Karena dalam terpaksa dan tidak ada pilihan, baiklah, saya terima.

Dan ternyata lebih parah lagi karena pada saat hujan atapnya yang terbuat dari asbes bocor. Bukan cuma itu, air dari luar pun ikut bergabung jika hujan turun lebat. Mana bisa nyaman? Sekali lagi karena dalam terpaksa dan tidak ada pilihan, baiklah, saya terima lagi. Saya akali dengan melapisi kasur dengan plastik yang lebar agar air tidak merembes ke badan. Saya bertahan 3 bulan di tempat ini. Dan saat saya ijin untuk mencari tempat kos lain, pemiliknya menawarkan untuk tinggal di dalam rumah bersama anggota keluarganya yang lain kalau ingin nyaman, tapi dengan harga sewa 2 kali lipat. Tawaran saya terima.

Lupakan dulu tentang tempat kos. Keuntungan saya tabung hingga saya melebarkan sayap dengan menambah jenis dagangan yang lebih besar modalnya. Aksesoris dan perhiasan imitasi. Dari sinilah tabungan saya mengalir terus, terus dan terus sampai setahun. Setelah dinilai cukup, saya kemudian meminang dan menikahi seorang gadis teman sekolah di kampung saya.

Setelah menikah isteri saya ajak ikut merantau. Memang nasib sedang berpihak, warung pecel lele di belakang tempat saya berdagang akan dijual karena sepi pembeli. Saya ikut bernegosiasi dan akhirnya saya dapatkan. Entah kebetulan atau tidak, warung itu kemudian menjadi ramai pembeli. Penghasilan ganda saya dapatkan dari aksesoris dan warung pecel lele.

Kehidupan saya mulai membaik. Saya dapat beralih dari tempat kos ke rumah kontrakan yang layak untuk sebuah keluarga. Disinilah kehidupan rumah tangga saya dimulai. Saya dapat mencukupi kebutuhan rumah tangga secara layak. Saya sendiri tidak hidup dalam pengiritan lagi. Dan kebahagian kami dilengkapi dengan hadirnya sang buah hati.

Kisah ini membawa pesan moral, bahwa dengan kerja keras dan kesabaran pada akhirnya akan membuahkan hasil. Semua itu tidak dibangun dalam sekejap, perlu waktu bertahun-tahun untuk menikmati hasilnya.

Anda dapat meneruskan kisah ini dengan judul Sebuah Kecelakaan Tragis Mengubah Hidup Saya.

Satu Tanggapan to “Saya Mengawali Dunia Dagang Profesional Di Perantauan, Purwakarta”

  1. rifki said

    smngat sobat…..(dari org Purwakarta)

Apakah artikel di atas bermanfaat? Beri tanggapan Anda pada kolom di bawah ini.

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: