WARUNG INFOR NASI "MAS ARUL"

Tikungan Ceulibadak, Munjul, Jl. Ipik Gandamanah, Purwakarta, Jawa Barat

  • Oleh Arulmaster

  • Data 10 Pengunjung Terakhir

  • Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

    Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Bagaimana buka usaha warung pecel lele dan ayam’

Rahasia Sukses Mengelola Bisnis Pecel Lele, Pecel Ayam, Soto Ayam Dan Nasi Goreng

Posted by Arulmaster pada 15 Mei 2012


Tujuan Penulisan Artikel

Artikel ini ditulis dengan tujuan:

  1. Memperluas kesempatan kerja terutama di bidang bisnis pecel lele dan ayam atau semacamnya.
  2. Meningkatkan kesejahteraan para pengelola bisnis pecel lele dan ayam atau semacamnya, dengan cara mengoptimalkan keuntungan yang di dapat.
  3. Melestarikan makanan rakyat Indonesia, terutama pecel lele dan ayam atau semacamnya.

Pengenalan

Pecel lele dan ayam sudah menjadi bagian makanan rakyat secara merata, dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Lihatlah para pengelola bisnis ini mulai dari warung kaki lima hingga ke tingkat restoran, contohnya restoran Pecel Lele Lela yang terbilang sukses dengan banyak cabang di Jakarta dan omset miliaran rupiah setiap harinya.

Bagaimana rahasia kesuksesan restoran Pecel Lele Lela? Sang pengelola mungkin enggan membeberkannya untuk Anda. Tapi saya akan mencoba mengulik dibalik kesuksesannya.

Sekilas tentang profil pengelola restoran Pecel Lele Lela adalah pengusaha muda (31 th), berawal dari PHK yang diterimanya, ia kemudian mencoba bisnis pecel lele. Mulanya dia menyewa sebuah tempat usaha untuk memulainya. Akhirnya ia sekarang sukses dengan puluhan cabang dan sekitar 300 karyawan.

Tahukah Anda, bahwa kesuksesan Anda ada di tangan Anda sendiri. Pecel Lele Lela tidak berhasil hanya karena makanannya enak, atau memiliki resep rahasia. Diantara Anda pasti ada yang mampu membuat pecel lele lebih enak dari Pecel Lele Lela. Tapi kenapa Anda tidak mampu untuk menjadi lebih sukses? Jawabannya hanya dua kata, “sistem manajemen”. Ya, itulah kelebihan seseorang. Jika Anda memiliki niat yang besar, sesuatu yang besar pun tidak akan sulit untuk dikejar. Lalu, bagaimana Anda dapat belajar tentang manajemen? Anda akan dapat mencari sumber-sumber lain seperti buku atau panduan lainnya.

Memulai Bisnis

Apa saja yang diperlukan untuk memulai? Saya akan jawab dengan satu kata, “modal”. Modal yang saya maksud tidak dalam arti harta benda atau uang, tapi yang paling utama adalah niat. Lihatlah di sini, saya memulai bisnis ini hanya dengan modal Rp. 80.000. Lalu apakah saya sukses? Saya sedang dalam perjalanan untuk sukses, sebelum akhirnya saya mengalami kecelakaan.

Pemilihan Lokasi

Lokasi paling berpengaruh untuk menentukan bisnis ini maju atau tidak. Terkadang Anda memerlukan keberuntungan untuk menemukan lokasi yang stategis. Biasanya tempat yang strategis akan disewakan dengan harga yang cukup tinggi. Untuk Anda yang memiliki modal cukup pun perlu mempertimbangkan apakah keuntungannya akan sebanding dengan modal yang dikeluarkan untuk menyewa lokasi.

Ciri-ciri lokasi yang strategis:

  1. Berada di lingkungan dengan daya beli masyarakatnya yang cukup tinggi.
  2. Tempat parkir tersedia luas.
  3. Berada di pinggir jalan, pertigaan, atau perempatan.
  4. Mobilitas atau lalu lalang orang cukup tinggi.

Mempersiapkan Semuanya

Persiapkan semua kebutuhan Anda. Saya tidak dapat merinci satu per satu kebutuhan Anda, tapi Anda dapat menentukan sendiri kebutuhan yang seperti apa, atau dengan melihat pada yang lainnya.

Menetapkan Menu

Buatlah menu apa saja yang akan tersedia di dalam bisnis Anda. Kebanyakan warung pecel lele akan di kombinasi dengan pecel ayam, pecel bebek, soto ayam, nasi goreng, tahu dan tempe.

Menjalankan Bisnis

Apa saja yang perlu dilakukan untuk keberhasilan? Simak dibawah ini.

Suasana Yang Menarik Pembeli

Percaya atau tidak, faktor ini sangat penting untuk menunjang keberhasilan. Pecel lele yang ramai belum tentu makanannya enak. Tapi karena suasananya yang menarik membuat makanannya terkesan enak. Dan inilah yang menarik pengunjung untuk datang. Suasana yang menarik, meliputi:

  1. Penerangan yang cukup.
    Bisnis ini biasanya dijalankan di saat malam hari. Penerangan yang cukup dapat menarik perhatian pembeli.
  2. Spanduk yang berwarna cerah, bersih dan selalu terlihat baru.
    Jika spanduk Anda tidak sesuai dengan kriteria seperti di atas, cobalah ganti saja dengan yang baru. Jangan takut tentang uang yang Anda keluarkan, dalam beberapa hari saja akan dapat tergantikan.
  3. Kebersihan dan kerapian terjaga dengan baik.
  4. Buat senyaman mungkin.

Pelayanan Yang Ramah

Ada istilah “Pembeli adalah raja”. Tapi ini tidak berarti “Penjual adalah babu”. Jadi bersikaplah sopan biasa saja, tidak dibuat-buat. Karena usaha ini bersifat wiraswasta, Anda pun berhak mendapat sikap yang sopan dari pembeli.

Makanan Yang Berkualitas Dan Inovatif

Menu yang enak dan berkualitas menjadi daya tarik tersendiri. Pembeli yang ketagihan akan datang lagi di lain waktu. Jika Anda memiliki ide kreatif untuk membuat inovasi sendiri, tuangkan saja ide Anda.

Harga Yang Pantas

Menetapkan harga sama dengan menetapkan keuntungan yang akan diperoleh. Tidak ada ketentuan tertulis dalam menentukan harga. Untuk saya, saya metetapkan keuntungan 30% sampai 40%.

Tapi jika Anda masih bingung tentang harga yang pantas, Anda sementara dapat mengikuti harga pasaran di sekitar lokasi Anda. Harga pasaran di setiap daerah tentulah tidak sama. Selain itu, Anda perlu mempertahankan keuntungan. Misalnya begini, terkadang setiap orang memiliki permintaan khusus saat mereka memesan menu. Jika permintaan itu terlalu mengurangi keuntungan Anda, contohnya meminta tambah sambal, jangan lupa untuk menghitungnya, ini hak Anda. Tapi ini tidak perlu dilakukan jika Anda Anda sudah memperhitungkannya dalam keuntungan yang Anda peroleh.

Jika pembeli keberatan untuk membayar tambahan, cobalah berikan pengertian, bahwa untuk membuat sambalitu tidaklah murah. Jika pembeli tidak juga mengerti mungkin ia akan beralih ke lainnya. Biarkan saja, percayalah, Anda tidak butuh pembeli semacam ini.

Menghadapi Pesaing

Jika kebanyakan orang menyebutnya dengan pesaing, saya menyebutnya dengan teman seprofesi. Bukankah mereka pun sama? Biasanya, karena persaingan, kita berlomba-lomba untuk mencari pelanggan sebanyak-banyaknya. Ini sangat bagus. Tapi terkadang persaingan terjadi secara tidak sehat.

Saya akan mencontohkan saya sendiri. Teman saya menjual nasi goreng dengan isi yang lebih komplit dari saya dan dengan harga yang sama. Tentu saja nasi gorengnya lebih laku dari saya. Tapi tetap saja saya memiliki pelanggan sendiri meskipun tidak sebanyak teman saya.

Lalu apa yang saya pikirkan? Jika dipikir lebih dalam, meskipun teman saya lebih ramai pengunjung, toh keuntungannya sama saja dengan saya. Jika misalnya teman saya beromset Rp. 400.000, saya hanya perlu omset Rp. 250.000. Saya kembali ke tujuan saya, yaitu mencari keuntungan, bukan untuk bersaing. Lalu apa bedanya? Ya, jelas teman saya lebih sibuk dan capai dibanding saya. Saya masih memiliki waktu untuk santai, menulis artikel ini dan lainnya. Bukankah karena persaingan ini justru saya yang diuntungkan? Jadi, hindarilah persaingan yang tidak sehat.

Mengelola Keuangan

Hindari Rentenir

Setiap dari kita mungkin sering mengalami tekanan ekonomi. Cobalah painjam ke orang terdekat Anda. Jika cara ini tidak dapat ditempuh, cobalah pinjam ke bank. Jika cara ini pun mentok, pikirkan alternatif lain. Ingat, jangan coba-coba meminjam pada rentenir. Meskipun bisnis Anda berjalan lancar, sesungguhnya ini adalah penyakit. Lama-kelamaan Anda akan tergantung pada rentenir dan akan membuat bisnis Anda hancur. Dan ini sudah sangat sering terjadi di masyarakat kita. Inilah pemborosan tingkat pertama yang tidak Anda sadari.

Hindari Kredit Barang Tidak Perlu

Adakalanya Anda memerlukan sesuatu untuk dibeli, namun tidak memiliki uang cukup. Mungkin Anda akan berpikir, jika Anda tidak ambil kredit, barang itu tidak mungkin terbeli. Ya, itulah cara pikir otak kiri. Cara berpikir otak kanan lain lagi. Bukankah meski kredit kita tetap harus membayarnya setiap periode? Lalu apa bedanya dengan menabung? Apakah Anda berpikir bahwa kredit dapat dengan cepat memiliki barang yang Anda inginkan? Salah, selama cicilan belum lunas, barang itu bukan milik Anda, dan dapat diambil sewaktu-waktu oleh pemiliknya.

Meskipun barang itu menurut Anda penting dan mendesak, cobalah alternatif lain. Kredit adalah pemborosan tingkat kedua tanpa Anda sadari.

Hindari Membeli Barang Ketengan

Kenapa saya menganjurkan ini? Saya akan memberi contoh sederhana. Anda membeli beras setiap hari 10 liter dengan harga Rp. 9.5oo/kg misalnya, maka totalnya adalah Rp.65.000. Bandingkan dengan jika Anda membeli beras sekarung dengan berat 50 kg seharga Rp. 450.000. Beras itu dapat digunakan untuk 10 hari. Maka dalam 10 hari perbedaannya adalah Rp. 500 x 10 x 10 = Rp. 50.000. Ya, dalam 10 hari saja sudah Rp. 50.000. Maka dalam satu tahun adalah Rp. 1.800.000. Dan ini baru dari beras. Coba bayangkan untuk yang lainnya? Ingat, membeli barang ketengan adalah pemborosan tingkat ke tiga.

Menabung

Sebagai manusia tentulah kita memiliki harapan untuk masa depan kita dan keluarga kita. Masa depan perlu direncanakan. Dengan menabung kita berarti telah merencanakan masa depan. Cobalah Anda sisihkan 5 % saja dari omset bisnis Anda. Ini tidak akan mengganggu kelancaran bisnis. Suatu waktu, Anda akan merasakan manfaatnya.

Cara Sukses Dengan Otak Kanan

Di atas sudah saya singgung sedikit tentang cara berpikir otak kanan dan otak kiri. Di sini akan dijelaskan lebih detail. Ini adalah kutipan dari sebuah buku yang berjudul 7 Keajaiban Rezeki. Informasi lebih tentang buku in dapat Anda cari di Internet.

Ketika Istilah-istilah Serba “Kanan” Ditemukan

  • Satu kutipan religius berbunyi, “Mulailah dengan yang kanan”. Maknanya bisa jadi “Mulailah dengan otak kanan”.
  • Dalam bahasa inggris, kanan dan benar disebut dengan “Right”. Ini bisa jadi kanan artinya benar.
  • Masih dalam bahas inggris, kiri dan ketinggalan disebut “Left”. Ini bisa diartikan kiri itu memang ketinggalan.
  • Al Qur’an dibaca dari kanan ke kiri. Bukankah Al Qur’an itu pembawa kebenaran?
  • Budaya Islam, Kristen dan Indonesia akrab dengan istilah-istilah seba kanan yang identik dengan kebaikan.
  • Sebuah rambu-rambu bertuliskan, “Gunakan lajur kanan untuk mendahului”. Itu artinya gunakan otak kanan untuk mendahului otak kiri.
  • Masih pada rambu-rambu, “Untuk kendaraan lambat gunakan lajur kiri”. Yang artinya otak kiri selalu lambat.
  • Saat kita naik kendaraan umum dan berteriak, “Kiri”, maka kendaraan akan melambat dan berhenti.
  • Kesimpulannya, bagaimana pun, nganan lebih baik daripada ngiri.

Bertindak Cara Kiri

Berikut adalah catatan tentang otak kiri:

  • Kalau Anda merancang impian dengan otak kiri, ya susah. Karena hanya sekedarnya saja.
  • Kalau Anda mencari solusi dengan otak kiri, ya susah. Pasti itu-itu saja jawabannya.
  • Kalau Anda mencoba inovasi dengan otak kiri, ya susah. Pasti bisanya cuma ikut-ikutan.
  • Kalau Anda bersedekah dengan otak kiri, ya susah. Pasti segitu-gitu saja jumlahnya.
  • Kalau Anda membuka usaha dengan otak kiri, ya susah. Karena kebanyakan “Hitung-hitung, tapi-tapi, kalau-kalau, jangan-jangan!”.

Masih penasaran dengan dalih-dalih orang Kiri? Simak saja dan bagaimana golongan Kanan mematahkannya dengan sekali sambar.

  • Kata si Kiri, “Punya modal dulu, baru buka usaha”. Si Kanan nyeletuk, “Pakai modal orang lain dulu kan bisa”.
  • Si Kiri berkata, “Study kelayakan dulu, baru buka usaha”. Si Kanan menjawab, “Buka usaha dulu, baru usahanya dilayakkan”
  • Si Kiri bilang, “Makanannya enak dulu, baru ramai”. Si Kanan menjawab, “Dibuat ramai dulu, baru kesannya akan enak”.
  • Si Kiri berpendapat, “Barangnya bagus dulu, baru dijual mahal”. Si Kanan berpendapat, “Dijual mahal dulu, kesannya bagus”.
  • Kata si Kiri. “Omsetnya besar dulu, baru terkenal”. Kata si Kanan, “Dibuat terkenal dulu, baru omsetnya besar”.
  • Kata si Kiri, “Sekolah formal yang tinggi, baru sukses”. Jawab si Kanan, “Sekolah formal secukupnya, perbanyak belajar informal, baru bisa sukses”.
  • Kata si Kiri, “Saya bangga dengan gelar kesarjanaan”. Jawab si Kanan, “Saya bangga dengan gelar barang dagangan”.

Catatan Penulis

Artikel ini belum selesai digarap dan masih dalam proses penggarapan. Awalnya tulisan ini akan di susun dalam sebuah buku bersama artikel-artikel Resep Sambal Pecel Lele Dan Ayam Ala Mas ArulResep Bumbu Nasi Goreng, Mie Goreng, Dan Kwetiaw Ala Mas Aruldan Resep Soto Ayam Ala Mas Arul. Tapi kemudian saya berubah pikiran untuk menyusunnya dalam artikel blog, agar lebih mudah dibaca oleh pengunjung blog ini.

Namanya juga belum selesai, tentulah banyak kekurangan di sana-sini. Untuk itu partisipasi pembaca saya harapkan untuk kesempurnaan artikel ini.

========== ++++++++++++++++++++=========

Ditulis dalam Informasi Umum, Kuliner | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , | 13 Comments »

 
%d bloggers like this: